Contoh Resensi Bahasa Jawa

In Materi
Resensi Buku Jawa

Resensi Buku Jawa

CONTOH RESENSI BAHASA JAWA

Judul : Pergumulan Islam – Jawa Dalam Serat Jasmaningrat
Penulis : Suyami
Penerbit : KEPEL PRESS, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal Buku : : vii + 189 halaman
“Langkah & cara untuk mencapai Manunggaling Kawula Gusti”
Dari buku karya Suyami yang berjudul Pergumulan Islam – Jawa dalam Serat Jasmaningrat. Suyumi menyampaikan bahwa didalam warisan budaya bangsa, khususnya budaya Jawa, yang berupa naskah kuna, terdapat berbagai nilai-nilai luhur. Didalam buku penulis menganggap bahwa didalam karya sastra Jawa terdapat berbagai ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi kehidupan. Karena dalam perkembangan jaman yang sudah serba modern dan canggih ini, tidak banyak orang yang mampu membaca naskah kuna. Maka tidak banyak pula orang yang mampu mempelajari isi karya sastra kuna yang mana terdapat nilai-nilai luhur dan ilmu pengetahuan itu.
Dengan buku Pergumula Islam – Jawa dalam Serat Jasmaningrat tulisan Suyami yang dibuat melalui proses alih aksara, alih bahasa, pengkajian teks, dan pengkajian tema, maka dapat mempermudah pembaca dalam memahami isi dari naskah kuna, karena selain telah dialih tuliskan kehuruf latin, juga sudah terdapat pengkajian dalam bahasa Indonesia, ini ditujukan apabila pembaca tidak mengerti bahasa Jawa.
Naskah kuna yang di bedah dalam bukunya adalah Serat Jamaningrat, yaitu sebuah manuskrip Jawa yang menjadi koleksi Perpustakaan KHP Widya Budaya Kraton Kasultanan Yogyakarta. Penulis Serat Jamaningrat ini merupakan prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwomo V.
Penulis memilih naskah kuna Serat Jamaningrat karena didalamnya terdapat pergumulan antara pengetahuan keislaman dan kawruh kejawen sangat kuat dan lumat sehingga menghasilkan semacam pengetahuan Islam kejawen mengenai proses pembelajaran dan penggambaran penyatuan hamba dengan tuhannya (manunggaling kawula gusti). Didalam Serat Jasmaningrat mengandung beberapa teks yang pada dasarnya merupakan pengembangan tentang pergumulan Islam dan pandangan Jawa, khususnya dalam perspektif budaya kraton. Serat tersebut berisi uraian deskriptif tentang ilmu syarikat, tarekat, khakekat, dan makrifat yang diandaikan sebagai gambaran dalam kehidupan dunia istana dengan singgasana sebagai tempat Yang Maha Kuasa.
Dalam Serat Jasmaningrat, syarikat, tarekat, khakekat, dan makrifat masing-nasing memiliki tempat, pangkat, sifat dan jalan sendiri-sendiri untuk menghadap pada Yang Khalik. Mereka juga mempunyai jatah anugerah yang berbeda-beda. Selanjutnya disana juga di jelaskan adanya penggambarkan tentang keberadaan Muhammad dan Isa sebagai utusan Allah. ( halaman 5).
Didalam buku terdapat hasil transliterasi Naskah Serat Jasmaningrat, mulai dari Pupuh I Asmarandana sampai pupuh XIX Asmarandana, yaitu dari tulisan asli serat yang berupa huruf Jawa atau aksara Jawa kedalam huruf latin ( mulai dari halaman 5 – 119).
Namung sangat disayangkan bahwa didalam buku, setelah serat ditransliterasi hanya langsung diterangkan mengenai ringkasan isi serat tersebut, walaupun tetap saja ringakasan isi tersebut juga di mulai dari Pupuh I Asmarandana sampai pupuh XIX Asmarandana. Menurut saya akan lebih baik dan sempurna apabila pengalih bahasaan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia dilakukan dari bait ke bait, sehingga pembaca lebih dapat mengetahui serat tersebut lebih khusus dari bait ke bait, secara keutuhan.
Di dalam buku di terangkan bahwa untuk dapat mencapai penyatuan dengan yang khalik ( manunggaling kawula gusti), terdapat beberapa langkah, diantaranya: yang pertama, syariat atau Ki Syareat yang berarti ‘hukum agama’, memiliki perangkat berupa pengikut yang terdiri dari Ki Luhur, Ki Asar, Ki Maghrib, Ki Isa, Ki Subuh, Minalfitri dan Nganalwitri yang tugasnya berjaga di Pangkuran dengan pendamping Patih Jibril. Dia masuk melalui “sela matangkap”, yang kedua disebutkan tarekat atau Ki Tarekat, dia memliki pengikut yang terdiri dari Ki Badan, Ki Kalbu, Ki Osik, Ki Jiwa, Ki Pramana, Ki Budi, Ki Tapsila, Ki Panrina, dan Ki Eling, yang tugasnya berjaga di sokasana, dengan pendamping Ki Patih. Dia masul istana melalui “pintu siratal”, selanjutnya yang ketiga yaitu hakikat, dia memiliki pengikut Ki Paningal, Ki Pangucap, Ki Pangambu, Ki Pamirsa, Ki Cipta, Ki Ripta, Kia dap, dan Ki idep. Dengan pendamping Ki Patih Israfil. Dia masuk ke istana melalui “pintu besi”, dan yang keempat makrifat, dengan pengikut Ki Nyawa, Ki Atma, Ki Sukma, Ki Cahya, Ki Murcahya, Ki Langgeng, dan Ki Tohid. Dengan pendamping Ki Patih Ngijrail. Masul ke istana melalui “kori panutup”. (halaman 168).
Pada buku tersebut juga di bahas mengenai empat pintu, dimana empat pintu tersebut merupakan pintu masuk untuk menuju istana (surga). Dan penggambaran ilmu sareat, dan sebagainya, malaikat, nabi, di gambarkan sebagi prajurit istana.
Pada intinya segala yang yang merupakan jalan untuk mencapai surga didalam islam di gambarkan ke dalam istana yang di mana untuk dapat mencapai istana perlu melalui pintu-pintu tersebut diatas. Jadi dari isi buku tersebut dapat diinterpretasikan makna yang terkandung adalah jika manusia ingin mencapai penyatuan yang hakiki dengan Yang Khalik (manunggaling kawula gusti), sepenuhnya bergantung pada diri sendiri, lepas dari segala atribut keduniawian dan kejasmanian. Dan tentunya juga dengan melaksanakan langkah-langkah tersebut.
Lepas dari Serat Jasmaningrat, didalam buku tersebut juga di jelaskan bahwa gambaran yang sejalan dengan empat tingkatan sembah dalam manunggaling kawula gusti yaitu pada Serat Wedhatama yang di gambarkan oleh KGPAA mangkunegara IV, yaitu tentang sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa. Apabila disejajarkan dengan Serat Jasmaningrat, sembah raga dapat disejajarkan dengan gambaran keberadaan Ki Syariat, sembah cipta dapat disejajarkan dengan gambaran keberadaan Ki Tarekat, sembah jiwa dapat disejajarkan dengan gambaran keberadaan Ki Khakekat, dan sembah rasa dapat disejajarkan dengan gambaran keberadaan Ki Makrifat. . (halaman 173-175).
Walaupun dalam buku cuma sedikit mengulas tentang Serat Wedhatama yang isinya tentang sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa secara garis besar namun sudah dapat memberi pengetahuan tentang ilmu untuk dapat mencapai manunggaling kawula gusti.
Dari keseluruhan buku bias dikatakan bahwa buku ini sangat berguna untuk menambah ilmu pengetahuan dan pemahaman pembaca tentang bagaimana agar kita dapat menuju manunggaling kawula gusti atau menyatunya hamba dengan dengan Tuhan, yang merupakan isi Serat Jasmaningrat dengan sedikit tambahan dari Serat Wedhatama. Yang mana buku tersebut merupakan naskah kuna, warisan budaya leluhur yang patut dikaji agar dapat menambah ilmu pengetahuan dan sejarah kebudayaan jaman dahulu. Dan secara tidak langsung pula dapat mengingatkan pembaca, bahwa kita harus senantiasa menjaga warisan nenek moyang agar dapat mengambil ilmu-ilmunya, sekaligus untuk mewariskan kepada generasi penerus kita, yaitu generasi muda. Mungkin dengan demilian juga dapat menggugah generasi muda ataupun pembaca untuk mau belajar membaca tulisan jawa, yang kini makin ditinggalkan oleh anak muda sekarang ini, untuk dapat dan mampu membedah serat-serat yang lain sendiri.

Tags: #contoh resensi #contoh resensi bahasa jawa #resensi

Tulahda Pranatacara Syawalan ing Sekolahan & Masjid
Tulahda Pranatacara Syawalan ing Sekolahan & Masjid
PANATACARA ING ADICARA SYAWALAN Berikut ini adalah
Soal Bahasa Jawa Kelas XI Semester 1
Soal Bahasa Jawa Kelas XI Semester 1
Soal Bahasa Jawa Kelas XII Semester 1,
KAWRUH TEMBANG MACAPAT
KAWRUH TEMBANG MACAPAT
KAWRUH TEMBANGMACAPAT Tembang/sekar  inggih menika reriptan utawi
Pasang Tarub lan Bleketepe
Pasang Tarub lan Bleketepe
Upacara Pasang Tarub lan Siraman        Salah
Must read×

Top
×